Hingga menginjak umur 15 tahun, saya masih menyangkal bahwa keluargaku tempat ternyaman, terbaik. Dari keluarga-keluarga temanku, dibandingkan dengan keluargaku sendiri, mereka lebih baik. Banyak canda di sana, tidak ada rasa kikuk antara orang tua dan anaknya. Mereka sekeluarga layaknya segerombolan teman.
Aku begitu benci suasana keluargaku! Memang kami sekeluarga sering mengobrol, namun itu semua dalam suasana rikuh. Dalam masa-masa terakhir saya di SMK, saya pun memilih untuk emncari kerja ke luar kota, di Kolaka (Sulawesi Tenggara). Saya bosan di rumah!
Hari pertama di kota orang, selepas menunaikan sholat maghrib, saya pun menangis menekur. Ternyata hati kecil saya masih merindukan susana kikuk itu, suasana saat di rumah yang begitu saya benci sebenarnya. Tapi untuk hari selanjutnya, keangkuhan saya terlalu tebal untuk ditembus hati yang kecil. Saya lebih baik jauh terpisah dari mereka.
Masa kerja yang saya lewati di kota orang ternyata sedikit merubah pandangan saya. Ternyata, walau pun ibu saya seorang pemarah dan tak suka banyak canda, sungguh sangat baik. Hati seorang ibu memang tak bisa begitu saja melepaskan anaknya. Sedikit-sedikit hati saya tergerak, namun angkuh itu masih tebal. Seperti batu.
Namun sekeras apapun batu, pasti akan berlubang bila digerus air terus-menerus. Seperti batu, hati saya pun melunak. Dengan limpahan kasih sayang dari orang tua, saya pun luluh. Tak ada lagi keangkuhan untuk menyangkal “keluarga adalah tempat terbaik”. Meski butuh waktu itu belum terlambat.
Mendengar kisah keluarga dari teman-teman kerja membantu saya menghilangkan rasa angkuh terhadap hal-hal di atas. Ternyata banyak keluarga yang lebih parah dari keluarga saya. bahkan salah satu teman saya mengatakan bahwa rumahnya seperti temat ronda, saat malam saja baru berkumpul seluruh isi rumah. Itu pun biasanya langsung tertidur pulas sehabis kerja seharian. Ada juga yang mengeluh tak diajari agama oleh orang tuanya, hanya disuruh ke gereja tanpa tahu apa-apa. Seakan pergi ke gereja hanya sebuah formalitas seremonial tanpa arti.
Saya kangen ibu dan bapak saya. Ternyata, walau bagaimana pun, keluarga adalah tempat terbaik.. Alih-alih kepada teman, bisa saja suatu saat kita terjerat oleh apa yang kita ceritakan kepada mereka.
Ibu
kau adalah surga yang terlihat
kau adalah permata teramat indah
kau malaikat bagiku
kasih sayangmu tak pernah surut
cintamu tak pernah lekang
ibu, ada asimu yang tak sempat aku fahami
hingga aku hilaf hampir air matamu menetes
diantara pipimu.
Ibu, ingin aku menebus semua itu
Namun harus dengan berapa triliun dolar
Akupun tidak sanggup
Aku hanya bisa berusaha
Agar Kau tetap tersenyum
Kau tetap menjadi malaikatku
Kau tetap menjadi surgaku
Kau tetap menjadi permataku
Ibu, maafkan aku
Di kala resah ini kian mendesah dan menggalaukan jiwaku
Kau ada di sana …
Di saat aku terluka
hingga akhirnya…tercabik-cabiklah keteguhan hatiku
Kau masih ada di sana…
Ketika aku lelah dan semangatku patah untuk meneruskan perjuangan,
terhenti oleh kerikil –kerikil yang kurasa terlampau tajam
hingga akhirnya aku pun memilih jeda!!!
Kau tetap ada di sana…
memberiku isyarat untuk tetap bertahan
Ibu…kau basuh kesedihanku, kehampaanku dan ketidakberdayaanku
“Tiada lain kita hanya insan Sang Kuasa,
Memiliki tugas di bumi tuk menegakkan kalimatNya
Kita adalah jasad, jiwa, dan ruh yang terpadu
Untuk memberi arti bagi diri dan yang lain”
Kata-katamu laksana embun di padang gersang nuraniku
memberiku setitik cahaya dalam kekalutan berfikirku
Kau labuhkan hatimu untukku, dengan tulus tak berpamrih
Kusandarkan diriku di bahumu
Terasa…kelembutanmu menembus dinding-dinding kalbuku
Menghancurleburkan segala keangkuhan diri
Meluluhkan semua kelelahan dan beban dunia
Dan membiarkannya tenang terhanyut bersama kedalaman hatimu
Kutatap perlahan…
matamu yang membiaskan ketegaran dan perlindungan
Kristal-kristal lembut yang sedang bermain di bola matamu,
jatuh…setetes demi setetes
Kau biarkan ia menari di atas kain kerudungmu
Laksana oase di terik panasnya gurun sahara
Ibu…
Nasihatmu memberi kekuatan untukku
rangkulanmu menjadi penyangga kerapuhanku
untuk ,menapaki hari-hari penuh liku
…semoga semua itu tak akan pernah layu!
Ibu…
Dalam kelembutan cintamu, kulihat kekuatan
dalam tangis air matamu, kulihat semangat menggelora
dalam dirimu, terkumpul seluruh daya dunia!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar